BIMP-EAGA Usulkan Perdagangan Non Coventional Tawau-Tarakan

wakil ketua Kadin Kaltara, Abdul Khair

Pertemuan negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East Asean Growth Area (BIMP-EAGA) yang dilaksanakan di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) November 2017 lalu, membahas perekonomian perbatasan antar-negara yang diharapkan bisa mendongrak perekonomian daerah perbatasan khususnya Kalimantan Utara (Kaltara).

Terkait dengan pertemuan BIMP-EAGA tersebut, Wakil Ketua Kadin Kaltara, Abdul Khair sangat menyambut baik hal tersebut, dan berharap ada followup lebih lanjut dari para pengambil kebijakan di Kaltara agar apa yang menjadi cita-cita bersama BIMP-EAGA bisa segera terealisasi.

“Kita para pengusaha khususnya pedagang sangat mengharapkan agar proses perdagangan antar negara khususnya antara Indonesia dan Malaysia bisa berjalan lancar mengikuit regulasi dari pemerintah sehingga barang yang masuk atau keluar ke Malaysia itu bisa dilegalkan” harap Abdul Khair.

Keempat negara peserta kerja sama BIMP-EAGA, mengikat komitmen untuk meningkatkan kolaborasi dalam delapan sektor yakni sektor tersebut adalah pariwisata, perdagangan dan investasi, transportasi, ketenagalistrikan, ICT, pertanian, lingkungan serta kebudayaan dan pendidikan.

Disampaikan Abdul Khair, didalam BIMP-EAGA ini terdiri dari pemerintah dan pengusaha dimana kedua belah pihak ini diharapkan dapat berkolaborasi dengan baik untuk membuat suatu kebijakan yang dapat segera dilaksanakan dan tidak menyulitkan pengusaha tentunya agar sektor perdagangan kedua Negara bisa berjalan normal dan terkontrol.

“Dicontohkan misalnya Tarakan yang berbatasan langsung dengan Tawau, Malaysia apabila ekpor dan impor barang tidak diatur dengan benar maka yang terjadi adalah perdagangan illegal” Kata Abdul Khair.

Ia menilai, selama ini Kaltara yang berbatasan langsung ke ketiga negara tersebut hanya menjadi konsumen, padahal Kaltara memiliki potensi-potensi produksi ekspor, yang jika bisa diatur regulasinya dengan baik bukan tidak mungkin hasil ekspor tersebut akan mendatangkan kesejahtraan bagi masyarakat dan juga pemasukan bagi pendapatan daerah.

“Karena kita juga tidak boleh menutup mata, bahwasanya perdagangan diantara dua Negara Indonesia – Malaysia sudah terjadi sejak puluhan tahun silam misalnya perdagangan Tawau – Tarakan sudah berlangsung sejak lama bahkan tak jarang barang dari Negara tetangga merajadi produk-produk di Kota Tarakan,” Ujar Abdul Khair.

Terus apakah ini akan dibiarkan terjadi terus menerus, Lanjutnya tampa adanya kejelasan regulasi yang dijadikan acuan buat para pedagang. “Kalau ini terus akan dibiarkan malah kita tidak akan mampu mengontrol tingkat kualitas produk dan mendata jumlah barang yang masuk maupu barang yang keluar ke Negara tetangga”jelasnya lagi.

Disampaikan Abdul Khair, bahwasanya pedagang itu bukannya tidak mau kooperatif mengurus izin. “Malah izin-izin itu sudah kami upayakan untuk dilengkapi misalnya surat izin impor barang tertentu sudah dibuat, begitupun NIK (nomor induk kepabianan) semuanya sudah tinggal regulasinya saja yang perlu diperjelas dan disesuaikan dengan kondisi wilayah kita” harapnya.

Maka dari itu di BIMP-EAGA mengusulkan adanya system perdagangan non conventional khususnya di regional wilayah perbatasan seperti Tarakan-Tawau yang jaraknya tidak terlalu jauh. “Kita berharap usulan ini dapat di backup pemerintah sehingga bisa terealisasi perdagangan regional antara Tawau-Tarakan bukan lagi menjadi perdagangan internasional,” Usul Abdul Khair.

Sebab ketika aturan perdangan Internasonal yang mau diberlakukan di Tawau – Tarakan akan sangat ribet jadinya dan biaya pun akan semakin mahal jatuhnya. “Dari itu, Kita ingin Tarakan dan Tawau bisa jadi pintu gerbang perdagangan,” harapnya.

Kalau untuk transportasi ‘orang’ di kedua Negara kata Abduk khair sudah aman karena sudah ada kapal dan pesawat yang terbang lansung dari Tarakan – Tawau, dan salah satu tujuan BIMP-EAGA pergerakan orang dan barang tidak terhambat.

Sehingga sektor pariwisata sudah berjalan namun belum maksimal ketika BIMP-EAGA kedepan diharapkan sebagai sarana promosi.(pst)

Leave A Reply

Your email address will not be published.