Memanfaatkan Limbah Kepala dan Tulang Ikan Menjadi Produk Makanan

Kelompok Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Juata Laut, Kota Tarakan memanfaatkan limbah ikan menjadi produk makanan bernama stik ikan nomei dan stik ikan chanos/bandeng.

Jika mengenal istilah air jadi dan air mati, tentu tak terpisahkan dengan para nelayan. Namun kali ini yang di bahas bukan para nelayan, melainkan kegiatan istri para nelayan, yakni mengelola limbah ikan menjadi produk makanan.

Prosesi pemanfaatan limbah ikan menjadi produk makanan bernama Stik Ikan Nomei dan Stik Ikan Chanos/Bandeng

Berawal dari pembentukan kelompok Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Juata laut, Zaid Hadi mencoba menemui Firdaus, seorang pengajar di Universitas Borneo Tarakan. Kemudian pertemuan itulah menghasilkan ide pemanfaatan limbah kepala ikan.

Zaid Hadi mengungkapkan, ide awalnya lahir karena ingin mengisi waktu saat air jadi.  “Kalau air jadi, mereka (Istri Nelayan)  tidak ada kegiatan. Jadi saya punya inisiatif untuk menemui pak Firdaus (Pengajar di Universitas Borneo Tarakan). Selanjutnya menghasilkan ide, memanfaatkan limbah kepala ikan dan tulang-tulang ikan yang dibuang itu, kita jadikan bahan pelatihan Tenaga Kerja Mandiri” katanya  via seluler.

Selain itu, ia mengakui sampai saat ini, produk makanan yang dimunculkan baru satu jenis, yakni stik menyusul naget, dan kerupuk. Jadi ada tiga yang bisa dijadikan produk makanan.

“Sebenranya ada tiga produk yang bisa jadi dari limbah, tetapi masih kita coba yang unik-unik dulu” katanya.  Zaid Hadi mengaku, kegiatan ini adalah program langsung dari kementerian ketenagakerjaan, turun langsung ke dinas kabupaten/kota lalu ke masyarakat.

Setelah melalui proses  panjang, akhirnya  program ini bisa berjalan, bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Unversitas Borneo Tarakan, bersama ibu-ibu, istri para nelayan.
“Utamanya, program ini dari kementerian ketenagakerjaan. Turun ke dinas kabupaten/kota selanjutnya kepada masyarakat setempat” ujarnya.

Produk makanan yang dihasilkan

“Saya sendiri juga ditunjuk sebagai pendamping langsung oleh kementerian melalui proses seleksi yang cukup panjang. Selain itu ada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Boreno Tarakan, seperti pak Firdaus, Ibu Ira dan Pak Imra.” Jelas Zaid Hadi.

Lanjutnya, program Ini sudah dimulai sejak 2017 lalu tepatnya  November. Hanya lima bulan, kelompok Tenaga kerja Mandiri (TKM) menghasilkan tiga produk, yaitu stik, nuget, dan kerupuk. Namun yang baru dimunculkan adalah stik Ikan nomei dan Ikan chanos/bandeng.
“Program ini masih percobaan, dengan waktu yang singkat, bisa jadi tiga produk. Akan tetapi, kita masih munculkan 1 produk, stik.” imbuhnya.
Tenaga Kerja mandiri (TKM) sendiri adalah program yang bergerak untuk mengembangkan pendampingan ke masyarakat sesuai dengan potensi yang ada di daerah. Zaid hadi mengharapkan program mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
“Kita tentu berharap program ini bisa mensejahterakan masyarakat secara berkelanjutan.” Pungkasnya.(ren/pst)

Leave A Reply

Your email address will not be published.